Senin, 11 Mei 2014 bertempat di Ruang Rapat Rektorat Gd. Jend
Sudirman Lt. II UPN “Veteran” Jakarta diadakan Pelantikan dan Serah
Terima Jabatan Ketua MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa) dari
Gampang Tegar kepada Oktariyanti Mustika dan Serah terima Jabatan Ketua
BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) UPNVJ dari Moch. Ilham kepada Tri Wijaya
Sakti. Pada pukul 09.00 WIB acara dibuka dengan menyanyikan lagu Mars
Bela Negara dengan dihadiri oleh Rektor UPNVJ Dr. Koesnadi Kardi, M.Sc,
RCDS, Ketua BPH, para Wakil Rektor, para Dekan, Dir. PPs dan para
Undangan lainnya.
Dalam sambutannya Rektor menyampaikan ucapan terima kasih kepada
pejabat lama atas peran sertanya sebagai ketua serta pengurus MPM dan
BEM di UPNVJ. Tak lupa pula Rektor menyampaikan agar tetap
mengaplikasikan Wawasan Kebangsaan, sikap
leadership, dan berjiwa
enterpreunership. Kepada pejabat MPM dan BEM yang baru Rektor berharap agar bersikap informatif yang bisa mempengaruhi (meng-
influence) mahasiswa/i dan bisa bekerja sesuai dengan tugas dan kewajibannya di UPNVJ.
Acara berlangsung khidmat dan ditutup dengan penyematan pin kepada
Ketua MPM dan BEM yang baru serta penyerahan piagam penghargaan kepada
pejabat lama.
SEJARAH TERBENTUKNYA MPM DAN BEM DI UPNVJ
Bermula dari kebijakan BAKOR atau Badan Koordinasi untuk mengkondusifkan
aktifitas kehidupan kampus akibat darikebijakan politik pemerintahan
yang masih di jaman itu berimbas pada proses menggeliat kembalinya
dinamisasi kehidupan kampus, maka upaya kaderisasi aktifis kampus untuk
mengembalikan kepedulian pada bidang-bidang sosial dan politik mulailah
mendapat perhatian lagi dari mahasiswa, termasuk juga di UPNVJ.
DIKTI kemudian membuat kebijakan baru lagi yaitu dengan membentuk SMPT
atau Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi sebagai keupayaan terhadap
canangan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Di UPNVJ pada sekitar tahun 1994
SMPT diketuai oleh Yadi Maryadi, Tahun 1995 oleh Ghozali dan tahun 1996
oleh Rahadian Yuliusman. Pada saat itu sudah mulai tercipta iklim yang
kondusif untuk aktifis mahasiswa melakukan upaya mengaplikasikan
kebebasan organisasinya dengan Rektor pada saat itu adalah Prof. Sambas
Wirakusumah, meskipun dalam hal ini rektor sendiri adalah kakak dari Edi
Sudrajat, Menteri Pertahanan pada saat itu.
Pada Periode Rahadian Yuliusman inilah diinisiasi terselenggaranya MBM
atau Musyawarah Besar Mahasiswa UPNVJ yang Pertama. Pada saat tersebut
ditengarai sudah mulai mengkristalnya akatifis mahasiswa untuk mengenyam
kebebasan organisasi kampus seluas-luasnya. Ketika format SMPT masih
berjalan maka MBM-1 yang berlangsung di Vila Cimacan Cisarua ini
menghasilkan rumusan STUDENT GOVERMENT sebagai bagian yang tak
terpisahkan pada STUDENT MOVEMENT di periode-periode berikutnya.
Student government yang dirumuskan pada saat itu adalah terbentuknya
mekanisme Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) dan Badan Eksekutif
Mahasiswa (BEM), dalam hal ini BEM ada di tingkatan Universitas (BEMU),
di tingkatan Fakultas (BEMF) dan ditingkatkan HMJ (Himpunan Mahasiswa
Jurusan) dimana kesemuanya itu adalah Badan Eksekutif atau Eksekutor di
masing-masing tingkatan untuk mendinamisasi pemerintahan mahasiswa di
organi kemahasiswaan di kampus UPNVJ.
MPM sendiri memposisikan sebagai majelis rendah dan majelis tinggi dalam
merepresentasi perwakilan mahasiswa untuk memberikan masukan-masukan
program dan kebijakan kepada BEMU dan untuk mengevaluasi kinerja BEMU
dan muara akhir dari pertanggunjawaban BEMU.
Sampai akhirnya masuk dalam kepengurusan BEM UPNVJ periode 1997 dijabat
oleh Popon Lingga Geni dimana pergerakan mahasiswa sudah mulai
mengkristal dengan sering dilaksanakanya MIMBAR BEBAS di kampus-kampus
di Indonesia dan juga dengan kampus UPNVJ aktifitas MIMBAR BEBAS dari
hari ke hari mulai menggeliat dan intensif saja. Isu utama pada saat itu
adalah lamanya Presiden Suharto berkuasa sebagai isu utama demokrasi,
isu pelanggaran HAM, isu kemiskinan, isu inflasi ekonomi dan lain
sebagainya yang pada prinsipnya sangat terlihat dinamisasi kehidupan
kampus dengan otonomi kehidupan kampus yang kental.
MPM dan BEM menjadi motor infrastruktur kehidupan kampus untuk menopang
PERGERAKAN MAHASISWA 1998 yang sangat tinggi progresifitasnya.
Kampus-kampus yang siap dengan student movement pasti dilatarvelakangi
oleh mekanisme organisasi kampus yang bercirikan student government, dan
dalam hal ini BEM dan MPM UPNVJ sebagai yang paling siap dibandingkan
dengan kampus-kampus swasta lainya, kegiatan divisi eksternal BEM
sebagai yang ikut mempelopori Pergerakan Mahasiswa 1998, di situ ada
nama Popon Lingga Geni dan Sayed Junaidi Rizaldi yang menjadi motor
FKSMJ atau Forum Komunikasi Mahasiswa Jakarta yang bahu membahu membuat
forum yang lebih besar lagi secara nasional.
Dari sedikit paparan yang penulis sampaikan sebagai bagian dari
pemrakarsa MBM-1 yang kemudian melahirkan student government dengan
lahirnya mekanisme MPM dan BEM, ingin disampaikan kepada mahasiswa yang
sekarang masih aktif dalam organisasi kemahasiswaan yang sekarang
disebut ORMAWA di UPNVJ bahwa baik mekanisme MPM maupun BEM adalah
mekanisme yang MURNI LAHIR dari mahasiswa di zamannya, bukan mekanisme
atas bentukan rektorat ataupun pihak universitas.
Artinya, kemampuan dan kreatifitas haruslah ditumbuh suburkan untuk
mencetak mahasiswa yang tidak hanya memiliki kemampuan akademis namun
memiliki juga kemampuan organisasi yang handal dan independent. Semangat
inilah yang ditengarai mulai menghilang di kalangan mahasiswa yang
sudah dihinggapi pada sifat hedonis dan masa bodoh terhadap perkembangan
lingkungan masyarakat di berbagai bidang haik itu ideologi, politik,
ekonomi, sosial, budaya serta pertahanan dan keamanan.
Jika anggota Ormawa kampus UPNVJ membaca ini, maka mulailah banyak
keinginan untuk belajar dari apa saja yang bisa membuat daya nalar yang
kritis dan berempati pada proses-proses kehidupan berbangsa dan
bernegara yang harus mendapatkan perhatian di luar proses akademis yang
sudah memiliki standar sistematika yang baku. Para senior pergerakan
mahasiswa akan sangat senang menyampaikan dan berbagi pengalaman yang
mencerahkan untuk bersama-sama membangun kesadaran betapa hal-hal yang
multi dimensi da kehidupan bangsa dan negara ini masih membutuhkan
sentuhan-sentuhan kemurnian pendapat dan pikiran dalam bentuk peran
serta idealisme mahasiswa.
Jika para senior pergerakan membaca tulisan ini juga semoga tergugah
dari nyamanya zona yang sekarang sudah menghampiri para senior semua
yang relatif melupakan adanya kewajiban untuk berbagi ilimu dan
pengalaman kepada adik-adik kita di kampus meskipun pada saatnya nanti
hanya terbungkus dalam acara ramah-tamah yang dapat menjadi pintu
pembuka dialog dengan mereka yang sedang aktif dalam lembaga
kemahasiswaan di UPNVJ. Amin.
(BHD/red)