Tampilkan postingan dengan label Buah Pena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buah Pena. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 April 2013

MANJING AJUR AJER

Franklin Delano Roosevelt (1882-1945) adalah Presiden Amerika Serikat ke 32 yang memimpin Amerika Serikat selama 12 tahun (1933-1945). Saat itu Amerika Serikat menghadapi dua masalah besar yaitu krisis ekonomi dan Perang Dunia ke dua. Tidak bisa dibayangkan sosok yang beken dengan initial FDR ini kuat dan dipercaya memimpin selama itu, padahal beluiau juga lumpuh karena menderita polio.
ROOSEVELT

If you treat people right, they will treat you right – Ninety percent of the time”. Kata-kata bijaknya yang pertama saya temukan. Mungkin ini resep kepemimpinannya, “Perlakukan rakyat dengan baik”. Pada kesempatan lain saya baca bukunya Pockell dan Avila, “The 100 greatest leadership principles of all time” saya temukan satu lagi pitutur Roosevelt, “A good leader can’t get too far ahead of his followers”. Jadi pemimpin tidak boleh terlalu jauh dari bawahannya. Ada dua hal dari ucapan pendek Roosevelt yaitu bagaimana memperlakukan rakyat dan bawahan. 
 
KI HAJAR DEWANTARA
 
Saya penasaran, masa dalam pitutur Jawa tidak ada? Ingatan saya pertama lari ke Ki Hajar Dewantara (1889-1969) masih satu generasi dengan FDR. Pendiri Taman Siswa ini pada tahun 1922 memperkenalkan pituturnya yang kesohor dan dipopulerkan lagi pada era Orde Baru “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” yang artinya di depan menjadi tauladan, di tengah memberi semangat dan di belakang memberi dukungan”. Mungkin ini yang dimaksud FDR dengan pemimpin jangan terlalu jauh meninggalkan bawahan. Pemimpin ada di depan, di tengah-tengah dan di belakang bawahan.
 MAXWELL

John Maxwell”, generasi yang lebih muda (lahir 1947) seolah-olah membuat analogi motto Ki Hajar Dewantara: “Leaders must be close enough to relate to others, but far enough ahead to motivate them”, pemimpin harus cukup dekat tetapi juga agak jauh dari bawahannya, supaya bawahan punya motivasi. Pengertian sederhananya tetap pemimpin tidak boleh meninggalkan bawahannya.

 
 
 
 
 
 
 
SCHWEITZER
Ada satu lagi quotes yang saya catat dari “Albert Schweitzer (1875-1965). Yang ini lebih tua 7 tahun dari FDR sementara FDR lebih tua 7 tahun dari Ki Hajar Dewantara. Sebuah kebetulan yang pas untuk angka 7. Ia mengatakan “Example is leadership”.





KESIMPULAN

Dengan “Othak athik gathuk” maka diperoleh Roosevelt + Maxwell + Schweitzer = RMS. Bukan RMS yang itu tapi RM Soewardi (nama kecil Ki Hajar Dewantara). Ini guyon saja lho. Yang saya maksud sebenarnya orang Amerika (Roosevelt dan Maxwell), orang Jerman (Schweitzer) dan orang Indonesia bisa menyampaikan hal yang kurang lebih sama walaupun tidak saling berkomunikasi.
Secara keseluruhan dapat saya rangkum dalam sebuah ungkapan Jawa yaitu “Manjing ajur ajer” (Manjing: Masuk; Ajur-ajer: Menyatu). Manusia harus mampu memasuki hati dan menyatu dengan sesama manusia. Dengan “manjing ajur ajer” maka kita akan diterima dimana saja, oleh siapa saja dalam kondisi apapun. Seorang pemimpin yang bisa manjing ajur-ajer akan mengetahui situasi yang sebenarnya sehingga mampu mengambil keputusan yang benar apa yang menjadi kebutuhan bawahan dan rakyatnya. Ia akan banyak teman, dicintai sekaligus dihormati dan selamat. (IwMM) 
 
Sumber : Iwan Muljono

RAKYAT YANG TANGGON, TANGGAP DAN TRENGGINAS SERTA DISIPLIN NASIONAL.

Tata kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yang baik bukan hanya tergantung pada awak aparatur negara melainkan juga tergantung pada rakyatnya. Oleh karena itulah kualitas rakyatpun harus dirancang agar mempunyai karakter yang tanggon, tanggap dan trengginas serta disiplin. Visi ini bukan hanya untuk visi di lingkungan Akademi Militer saja melainkan harus diterapkan kepada seluruh manusia Indonesia. Oleh karena itu, perlu konsepsi tentang nation character building/rekayasa sosial/social engineering. Social engineering diperlukan untuk membentuk watak rakyat agar memiliki kualiatas tanggon, tanggap dan trengginas serta disiplin.

1. TANGGON. Bagaimana mendidik / mencetak rakyat yang tanggon, ulet dalam segala usaha untuk mewujudkan keinginananya. Pembelajaran dan pelatihan dini sejak lahir. Peranan orang tua, peran lingkungan tempat tinggal, peran lingkungan sekolah dan peran lingkungan tempat kerja semua merasa terpanggil untuk menjadikan manusia disekitarnya menjadi manusia yang ulet/tangguh/tanggon.
2. TANGAP. Bagaimana mencetak rakyat yang tanggap/reaktif terhadap hal-hal yang baik. Kembali ke pendidikan, pengajaran dan pelatihan merupakan wahana yang tepat dalam mencetak rakyat yang tanggap. Rakyat juga tidak bisa didesign agar tanggap dengan menggondol gelar akademik saja tetapi direkayasa agar mempunyai kemampuan dalam menyiasati segala cara guna memperoleh kemudahan dalam menjalani hidup dan kehidupannya beserta kelompoknya, sehingga dapat mewujudkan kehidupan yang indah, mudah dan tidak goyah. Komposisi rakyat tetap harus seperti kerucut. Mengacu kepada teory Paretho Law dalam inventory, maka strata 3 (masyarakat golongan atas ) sekitar 15 %, strata 2 dan 1 ( masyarakat golongan menengah) sekitar 35 % dan strata 0 atau yang lebih rendah (masyarakat golongan bawah) sekitar 50 %. Komposis ini perlu dijaga agar distribusi tenaga kerja juga dapat tersalur sesuai kebutuhan. Jika komposisi ini berubah tanpa diikuti dengan perluasan lapangan kerja, maka akan terjadi kepincangan atau pengangguran terselubung, artinya kualitas pendidikan yang lebih tinggi menangani pekerjaan yang berada di strata bawahnya. Misalnya manusia tingkat pendidikan S1 menangani pekerjaan strata dibawahnya yang seharusnya hanya dikerjakan oleh manusia dengan kualifikasi lulusan Sekolah Menengah.
Jadi mencetak rakyat yang tanggap adalah membentuk kwalitas rakyat agar menguasai bidang tugasnya/bidang pekerjaannya/profesional pada profesinya. Semua rakyat mempunyai profesi untuk memperoleh take home pay yang layak untuk menikmati hidupnya. Gerakan mencetak manusia yang tanggap digemakan disemua lingkungan, lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan tempat tinggal dan lingkunga pekerjaan baik SWTsta maupun pemerintah. Gerakan semacam ini bukan hanya ditatarkan, diseminarkan dan dipidatokan melainkan ditata dengan bingkai peraturan dan perundangan yang aplikatif. Peranan dan kreatifitas awak legislatif sangat menentukan keberhasilan dalam membuat bingkai-bingkai dan rambu-rambu untuk mencetak rakyat yang tanggap.

3. TRENGGINAS. Trengginas bukan berarti manusia yang mempunyai pisik yang utuh dan lengkap, namun trengginas dalam arti dinamis dalam menyikapi hidup yang penuh tantangan. Untuk dapat bersikap dan berperilaku trengginas sudah barang tentu harus diawali dengan memiliki sikap tanggon dan tanggap, aplikasinya didukung semangat tentu akan trengginas. Trengginas tanpa dikuti tanggap menjadi pekerja keras tanpa konsep alias ngawur (Hard Worker ). Trengginas tanpa dikuti tanggon, cepat putus asa (childess) . Oleh karena itu rakyat harus mempunyai kwalitas tanggon, tanggap dan trengginas ( Super Power ). Untuk itu, manusia perlu dibentuk karakternya, bukan dibiarkan tumbuh liar. Penulis pada awalnya beranggapan bahwa manusia Indonesia sebagai orang timur, dikatakan lembah lembut, sopan santun, namun setelah membaca sejarah pertempuran, perang, berbagai pembrontakan PKI di Madiun dan melihat kekejaman G.30 S /PKI beserta upaya penumpasannya, perilaku demonstran sewaktu menumbangkan Orde Baru dan perilaku sebagian manusia Indonesia dalam melampiaskan ketidak puasannya dengan perilaku seperti manusia Barbar penuh kekerasan, teror bom, saling memfitnah, saling menculik, saling bunuh-membunuh dan seterusnya, penulis menjadi semakin heran, salah siapa ? Bagaimana para pemimpin yang bertanggungjawab terhadap kehidupan bangsanya ? Bagaimana peran pendakwah agama, kyai /ustad /pasteur/ pendeta/ ulama, bagaimana peran para guru/dosen, bagaimana peran para orang tua, bagaimana peran para pemimpin organisasi ? Pak/bu RT, pak/bu RW, pak/bu Lurah, Pak/bu Camat, Pak/bu Bupati / Walikota, Pak/bu Gubernur, pak/bu Presiden, pak/bu Jaksa, pak/bu Hakim, pak / bu Pengacara, pak bu anggora Dewan yang terhormat, pak/bu prajurit TNI, pak/bu anggota Polri, pak/bu awak perbankan, pak / bu LSM dan pak / bu pemimpin parpol. Semua klise, semua semu semua tidak fair. Di lingkungan manusia Indonesia terjadi krisis moral, krisis pemimpin pada tingkat nasional beserta kepemimpinannya, kehilangan pedoman dan pandangan hidupnya, kebingungan mencari bentuk/ identitas dan sebagaimya. Apakah memang ini sudah menjadi takdir Allah SWT dalam memproses kepunahan manusia NKRI ??? . Ternyata kita memerlukan Disiplin Nasional dan Kepemimpinan Sejati. Bagaimana Aparatur negara dapat memiliki pola pikir dan pola tindak yang disiplin serta mahir mengaplikasikan Kepemimpinan Sejati ?

4. DISIPLIN NASIONAL. Gerakan Disiplin Nasional ( GDN ) pernah dicanangkan oleh pemimpin pemerintah Orde Baru/ Presiden Suharto pada tanggal 20 Mei 1995, bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional dan pernah dimasukan kedalam krida kedua dari Panca Krida Kabinet Pembangunan VI yang berbunyi :” Meningkatkan Disiplin Nasional yang dipelopori oleh Aparatur Negara menuju terwujudnya Pemerintah yang bersih dan berwibawa dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat “ [1]. Krida kedua ini apa ada yang salah, mengapa dalam era reformasi ditenggelamkan ke laut dan tidak pernah terdengar lagi. Menurut penulis konsepsinya sangat baik tetapi aplikasinya belum tepat sehingga perlu penyusunan konsep pengamalannya, bukan di buang begitu saja. Disiplin bukan monopoli TNI. Disiplin dalam pengertian ketaatan manusia Indonesia kepada peraturan negara (peraturan Kepala Negara, peraturan eksekutive, peraturan yudikative, peraturan legislative, peraturan TNI dan peraturan perbankan yang berlaku, secara ikhlas tanpa paksaan. Dikatakan tanpa paksaan, karena belum tentu peraturan-peraturan tersebut sesuai dengan keinginan sebagian kecil manusia. Manusia yang tidak setuju atau merasa terbelenggu oleh aturan akan bereaksi membangkang an atau melanggar secara-sembunyi-sembunyi. Oleh karenanya, perlu coersive dalam rangka law enforcement . Disinilah perlu tangan besi untuk dapat menegakan peraturan yang telah disepakati tanpa pandang bulu. Hukum dan peraturan berlaku umum / general, bukan berlaku khusus, maka setiap manusia berkedudukan sama dimuka hukum. Law enforcement hanya bisa terlaksana dengan paksaan, disamping dengan contoh teladan, diskusi, demokrasi, kebapakan dan sebagainya. Sepanjang paksaan untuk kepentingan mayoritas rakyat yang telah disepakati oleh sebagian besar rakyat (demokrasi), penulis percaya akan didukung oleh rakyat. Penegakan peraturan tidak perlu gamang, namun jika masih ada yang kebal terhadap peraturan ( Birokrasi Jarkoni mengajar tetapi Nglakoni, mendidik larangan tetapi dia sendiri melakukan pekerjaan yang dilarang tersebut), maka lemahlah hukum/ peraturan tersebut. Taat azas / Law abiding Principle harus dibiasakan kepada rakyat dan aparatur negara supaya rakyat sendiri dan aparatur negara tidak mau melanggar peraturan dan perundangan yang berlaku. Pengalaman penulis sewaktu belajar di luar negeri, jika kawannya mengajak melanggar peraturan misalnya membeli senjata tanpa Hunting Lisence diurus dulu, dia langsung mengatakan :” Don’t break the rule sir ! “. Mereka ternyata mengimplementasikan saling asah, saling asuh dan saling asih.
Saling asah, karena selama penulis di luar negeri didampingi oleh sponsor akademi yang selalu membimbing penulis dalam menyusun kata dan kalimat produk-produk tertulis agar tidak terlalu menyimpang dari tata bahasa negara tersebut.
Saling asuh, karena selain sponsor akademik penulis juga diberi Sponsor Sosial yang bertugas membimbing penulis agar tidak mempunyai kesan atau perilaku seperti di film-film dari negara mereka. Mereka mengatakan bahwa perilaku antara yang ada di film dengan kenyataan, berbeda dan jangan terkecoh oleh perilaku para bintang film yang memang untuk konsumsi hiburan.
Saling asih, penulis diperlakukan seperti saudara, kuliah djemput ke Bachelor Office Quarter (BOQ), dan selesai kuliah diantar kembali ke BOQ.
Bangsa asing tidak memiliki semboyan saling asah, saling asuh dan saling asih, tetapi ternyata dalam kehidupannya mengamalkan semboyan tersebut. Demikian pula bangsa asing tidak membaca Al Qur’an tetapi mereka mempraktekan ayat-ayat Al Qur’an, seperti ucapan :” It’s your bisnis Sir atau It’s my bisnis Sir “ mengandung makna bahwa itu urusan anda. Hal ini seperti yang tercantum dalam Al Qur’an surat ke 17 Al Israa( Perjalanan Malam ) ayat 7 :” Jika kamu berbuat kebaikan ( berarti ) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat kejahatan, maka ( akibatnya ) bagi dirimu sendiri...... “ Masalah –masalah pribadi diserahkan kepada pribadi masing-masing sedangkan masalah yang menyangkut hubungan antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan lingkungannya menggunakan hukum nasional. Salah satu masalah yang sangat pribadi adalah agama dan pemahaman terhadap hal-hal berkaitan dengan rochani. Inilah yang tidak boleh diganggu dan merupakan urusan pribadi masing-masing / hak asasi manusia. Begitu juga mereka selalu mengejar ilmu pengetahuan dan teknologi baru untuk kehidupannya tanpa mengenal menyerah. Hal ini merupakan aplikasi / pengamalan Surat ke 55 Ar Rahmaan (Yang Maha Pengasih) ayat 33 : “ Hai sekalian Jin dan Manusia, jika kamu mampu menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak bisa menembusnya melainkan dengan kekuatan “ Kekuatan disini harus dijermahan sebagai ilmu pengetahuan dan teknologi, agar manusia dapat menjelajah penjuru langit dan bumi. Manusia Indonesia yang mempunyai Al Qur’an belum dapat mengamalkan ayat tersebut. Inilah yang sebetulnya harus diperjuangkan oleh umat mayoritas bangsa Indonesia, bukan memaksakan untuk stagnasi budaya dan stagnasi hukum. Hukum dan budaya adalah dinamis sesuai dengan dinamika bangsa dan abstraksi generasi penerusnya terhadap perkembangan budaya manusia kotemporer dan budaya di masa yang akan datang.
Disiplin nasional tentunya harus diawali dari disiplin individu. Akumulasi disiplin individu menjadi disiplin kelompok dan seterusnya akumulasi disiplin kelompok berujung pada terwujudnya disipli nasional. Disiplin individu dan atau disiplin kelompok tidak dapat terwujud hanya dengan himbaun, pembiaran, dan berjalan alami, tetapi harus dengan tindakan tegas dan lugas dalam mengaplikasikan peraturan dan perundangan yang berlaku. Peraturan perundangan tentang kehidupan manusia juga harus lengkap sebagai kriteria dan rambu-rambu sikap dan perilaku yang baik dan yang jelek. Untuk mencapai disiplin individu, disamping menggunakan metode coersif, juga dengan metoda saling, asah, saling asuh dan saling asih. Melalui pendekatan logika, manusiawi dan pengetrapan berbagai gaya kepemimpinan di setiap strata organisasi apapun di setiap jalur lingkungan sosial maka realisasi disiplin nasional akan terwujud. 
 
 
 

NATA RASA, AMONG RASA, MIJIL TRESNA, AGAWE KARYA


Filosofi tersebut termuat dalam Dokumen Rencana Strategis Jawa Timur yang sering diucapkan dalam berbagai kesempatan oleh Gubernur Jawa Timur pada masa itu, Bapak H Imam Oetomo. Entah siapa penciptanya bagi saya yang lahir berbudaya Jawa, motto tersebut pas sekali untuk diterapkan sebagai nilai-nilai moral dalam pembangunan yang dilaksanakan oleh manusia, bersama manusia, untuk manusia.
Tujuan kita adalah “Agawe Karya”, membangun untuk kesejahteraan rakyat. Pembangunan dilaksanakan oleh semua orang, tidak hanya pemerintah, tetapi juga swasta, lembaga kemasyarakatan dan masyarakat itu sendiri. Pembangunan tidak mungkin dilaksanakan sendiri atau sendiri-sendiri, tetapi harus bersama, melalui kerjasama semua pihak. Pembangunan harus “pro rakyat” dan “inklusif” melibatkan semuanya.
Supaya semua berpartisipasi aktif tentunya harus diciptakan “Visi Bersama” atau “Shared Vision”. Supaya “Visi Bersama” bisa tercipta tentunya harus ada kebersamaan, dan kebersamaan tidak akan tercipta kalau tidak ada rasa cinta diantara aktor-aktor pembangunan. Dengan demikian ada kata “Mijil Tresna” dalam motto pembangunan tersebut: Menumbuhkan kasih sayang antar sesama. Kokoh dan kompak, barulah kita mampu “Agawe Karya”
“Seje kuncit seje anggit” sebuah peribahasa Jawa yang artinya “lain kepala lain pendapat”. Tidak ada orang yang pendapatnya sama. Kita harus mampu memahami, paling tidak mampu memberikan empathy kepada orang lain. Kita harus memahami kehendak rakyat, memahami harapan stakeholders, termasuk juga memahami rekan-rekan lintas sektor, lintas program bahkan teman satu program.

Perbedaan pendapat dalam era keterbukaan yang semakin dinamis tentusaja dimungkinkan, Beda pendapat bukanlah malapetaka, justru untuk menajamkan sasaran. Mungkin kita salah, mungkin saja semua benar hanya sudut pandangnya yang beda. Memang ada orang yang “waton sulaya” tetapi ini hanyalah kasuistik. Untuk itu kita harus mampu “Among Rasa”, mampu ngemong perasaan orang lain, memahami pendapat orang lain. Andaikan toh hati panas, kepala tidak usah terbakar.
Among rasa tanpa dilandasi niat baik tentunya tidak gampang. Orang harus punya bekal “Tepa Slira” menempatkan segala sesuatunya sesuai ukuran diri kita. Kalau kita tidak suka ya jangan memperlakukan orang sesuka kita. Oleh sebab itu kita harus mampu “Nata Rasa”. Menata perasaan kita terlebih dahulu sebelum memulai langkah. Kita harus siap walaupun menghadapi hal terburuk, bukan dengan bertempur mati-matian mempertahankan benarnya sendiri, melainkan untuk menyamakan visi.

“Nata Rasa” menghadapi masyarakat yang beraneka ragam dan dinamis bukanlah sesuatu yang mudah. Masih lebih mudah “nata rasa” waktu dipanggil pimpinan. Hanya ada tiga kemungkinan dengan singkatan 3D: diDangu (ditanya), diDhawuhi (diberi tugas) dan diDukani (dimarahi). D yang keempat tidak saya masukkan karena terlalu enak: diDhuwurake pangkate (dinaikkan pangkat/jabatan)
Demikianlah pemahaman saya tentang “Nata rasa, among rasa, mijil tresna, agawe karya”. Menurut saya bisa diterapkan di semua tingkat termasuk di tingkat RT (Rukun Tetangga dan Rumah Tangga) IwMM.

Sumber : Iwan Muljono

AMBEG ADIL PARAMARTA

Secara ringkas “ambeg adil paramarta” adalah sifar kepemimpinan yang adil dan bijaksana, mengutamakan kesejahteraan rakyat dan kepentingan umum. Marilah kita kembali kepada janturan Ki Dhalang, dalam menggambarkan sifat seorang raja yang “adil paramarta” sehingga negaranya menjadi kaeka adi dasa purwa, panjang punjung pasir wukir loh jinawi, gemah ripah tata tentrem kertaraharja”. Inilah sifat-sifat sang raja yang disampaikan Ki Dhalang. Kalimatnya tidak harus sama dengan yang ditulis di bawah ini, tapi isinya sama:
1. Pranyata ratu ambeg tanuhita, darmahita, samahita, sarahita. Tegesipun karem ulah kapandhitan, remen ulah pangadilan, marsudi rehing tatakrami, remen ulah kaprajuritan. Marma kinacek sasamining ratu, luhur tan ngungkul-ungkuli, andhap tan keni ingungkulan. Ratu amiguna ing aguna, tan ngendhak gunaning janma.
Penjelasannya sebagai berikut:
TANUHITA: “karem ulah kapandithan”, seperti pendeta yang memiliki keutamaan, halus dan welas asih
DARMAHITA: “Remen ulah pangadilan” artinya senantiasa menegakkan aturan dan undang-undang
SAMAHITA: “Marsudi rehing tatakrami”, Mengedepankan tatakrama  dan tidak membeda-bedakan manusia
SARAHITA:: “Remen ulah kaprajuritan”. Mengerti gelar perang, mampu menggunakan senjata dan sakti. Sehingga layaklah kalau seorang raja juga disebut “senapati ing ngalaga” atau panglima perang.
LUHUR TAN NGUNGKUL-UNGKULI, ANDHAP TAN KENI INGUNGKULAN: Luhur tetapi tidak berlebih-lebihan, rendah hati tetapi tidak dapat disepelekan
TAN NGENDHAK GUNANING JANMA: Senantiasa menghargai orang lain walaupun orang itu kelihatannya biasa-biasa saja, karena tiap orang punya kelebihan-masing-masing.
Selanjutnya Ki Dhalang meneruskan tuturnya:
2. Dene lelabuhaning nata, paring sandhang wong kawudan, asung pangan wong kaluwen, aweh banyu wong kasatan, paring teken wong kalunyon, asung kudhung  wong kepanasen, aweh payung wong kodanan, karya sukaning prihatin, maluyakaken wong kang nandang sakit
Penjelasannya sebagai berikut:
Adapun yang dilakukan raja, memberi pakaian orang yang telanjang, memberi makan orang yang kelaparan, memberi air orang yang kehausan, memberi tongkat orang yang berjalan di tempat licin, memberi tudung orang kepanasan, memberi payung orang kehujanan, menghibur orang yang prihatin, menyembuhkan orang yang sakit, sera melaksanakan Sama, Beda, Dana dan Denda
Kalimat serupa, adalah: “Menehana teken marang wong kang wuta. Menehana mangan marang wong kang luwe. Menehana busana wong kang wuda. Menehana ngiyup wong kang kudanan” dapat dibaca pada PiwulangSunan Drajat dalam pengentasan kemiskinan
Kalimat selanjutnya adalah:
3. Lampahing pangadilan nindakaken Sama Beda Dana Dhenda, adedasar dana wesiasat, lire datan ambaukapine, lamun sampun leresing kapidana boten mawi wigih. Senadyan garwa putra myang santana sayekti papatrapan  ing pamisesa.
Adapun SAMA, BEDA, DANA dan DHENDA, sebagai “four in one” dikenal sebagai CATUR PRAJA WICAKSANA, empat sifat yang perlu dimiliki pemimpin bijaksana. Secara sederhana artinya semua orang diperlakukan sama, tidak dibeda-bedakan, yang benar di beri  ganjaran yang salah didenda. Penjelasannya ada pada kalimat berikutnya:
ADEDASAR DANA WESIASAT, lire DATAN AMBAUKAPINE: (Dana: ganjaran; wesiasat: hukuman badan; Baukapine: berat sebelah). Jadi artinya: Yang benar dapat ganjaran dan yang salah diberi hukuman badan. Bahasa yang populer sekarang ini adalah berdasar “reward and punishment”. Kalau memang salah ya dihukum, tidak pandang bulu istri, anak atau keluarga.
Masih ada lagi yang dikatakan Ki Dhalang:
4. Sang nata mahambeg berbudi bawa laksana. Lire berbudi tansah angganjar ngulawisudha, dene bawalaksana sedaya ingkang kadhawuhan boten kenging oncat, tetep kalampahan”
Penjelasannya sebagai berikut:
BERBUDI: Luber budinya, artinya suka membantu sesama, suka memberi ganjaran kepada kawulanya. Budinya ibarat air yang meluap, mendinginkan dan menyegarkan kehidupan masyarakat.
BAWALAKSANA: Artinya yang diucapkan (bawa)  harus dilaksanakan. Tidak ada janji kosong atau omong kosong. Dalam ungkapan lain dikatakan: Sabda Pandhita Ratu. (Mohon dibaca posting: Berbudi bawalaksana)
Apa yang diucapkan dalam janturan ini, merupakan sifat-sifat kepemimpinan yang perlu diingatkan kembali kepada para muda sebagai generasi penerus. Memang ini hanya negara dalam dunia wayang. Apa ada di dunia nyata? Wayang artinya “ayang-ayang” atau bayang-bayang. Jadi sifat ini hendaknya bisa menjadi bayang-bayang yang setia mengikuti kita yang dipercaya memimpin walaupun pada unit paling kecil sekalipun (IwMM)
Sumber : Iwan Muljono 

TATAG, TETEG, TANGGUH, TANGGON, TANGGAP, TUTUG.

Ini juga pitutur yang menggunakan “Purwakanthi”. Kalau di Indonesiakan malah susah dan kalau bisa maka “purwakanthi”nya hilang sekaligus menjadi panjang kata-katanya. Saya coba cocokkan dengan “Bausastra Jawa”, Poerwadarminta, 1939 dan memang maknanya “mathuk” (cocok) untuk digunakan para pelaksana tugas.
TATAG: Artinya tidak memiliki rasa “sumelang” atau was-was. Orang seperti ini akan selalu “siap” melaksanakan tugas. Walaupun uang jalannya kecil, sarana terbatas dan medan sulit, ia tidak gentar.
TETEG: Artinya kokoh, tidak tergoyahkan. Hujan badai tidak akan menggoyahkannya. Selama kakinya masih bisa berdiri tegak, ia akan tetap bertahan.
Tatag” dan “Teteg” mewakili keberanian dan semangat. Walau demikian keberanian dan semangat harus didukung kemampuan. Oleh sebab itu kita melangkah lebih lanjut:
TANGGUH: Sebilah keris pusaka dikatakan memiliki “tangguh”, artinya memiliki “karakter” sekaligus “kekuatan” sesuai dengan karakternya. Seorang yang tangguh tentusaja punya ilmu yang didukung karakter.
TANGGON: Artinya dapat diandalkan. “Tangguh” saja, kalau tidak dapat diandalkan tentunya percuma. Umumnya orang tangguh dapat diandalkan, dan kalau kita mengandalkan seseorang, pastilah orang tersebut “tatag, teteg dan tangguh”
TANGGAP: Orang yang tanggap artinya mampu mendengar, mengerti apa yang didengar dan melaksanakan apa yang seharusnya dia lakukan dengan benar. Jaman sekarang tugas pada umumnya jelas, tetapi jaman dulu banyak yang tidak jelas, sehingga kita kenal istilah “Tanggap ing sasmita”, paham dengan isyarat. Bisa saja seseorang dapat diandalkan atau “tanggon” tetapi kurang “tanggap” sehingga terlambat atau salah persepsi.
TUTUG: Artinya sampai pada tujuan, selesai dan tuntas. Kalau kita suka mengikuti pagelaran wayang sering kita dengar perintah raja: “Aja pati-pati bali yen durung ...... “ (Jangan sekali-kali pulang kalau belum ........ “).
 
Seorang ksatria yang “tatag” tidak akan banyak bicara lagi kecuali mengatakan: “Nuwun inggih ngestokaken dhawuh” (Siap, kerjakan). Berangkat tanpa menoleh ke kanan kiri lagi. Di perjalanan ternyata dihadang raksasa. Ia tetap “Teteg” tidak akan mundur. Dengan ke”tangguh”annya ia mengalahkan semua raksasa. Oleh sebab itu ia seorang ksatria yang “tanggon”, dapat diandalkan. Selanjutnya karena ia ksatria yang “tanggap” ia dapat melaksanakan tugas pokoknya dengan benar dan “tutug”.
Tatag, teteg, tangguh, tanggon dan tutug” adalah “panyandra” untuk seorang ksatria dalam kisah-kisah heroik, di dunia pewayangan, yang sebenarnya menyampaikan pesan kepada kita semua untuk meneladani. Kita masing-masing punya idola wayang tertentu. Banyak diantara kita yang memasang wayang tersebut di dinding rumah kita. Misalnya Gatotkaca, Bima, Harjuna dan lain-lain, tetapi karakternya ternyata tidak kita ikuti. Untuk apa? (IwMM)
 
Sumber : Iwan Muljono

Selasa, 09 April 2013

Untuk Kol. Purn. Ir. M. Suhartanto M.Sc





















Jika dunia kami yang dulu kosong
tak pernah kau isi
Mungkin hanya ada warna hampa, gelap
tak bisa apa-apa, tak bisa kemana-mana
Tapi kini dunia kami penuh warna
Dengan goresan garis-garis, juga kata
Yang dulu hanya jadi mimpi
Kini mulai terlihat bukan lagi mimpi
Itu karena kau yang mengajarkan
Tentang mana warna yang indah
Tentang garis yang harus dilukis
Juga tentang kata yang harus dibaca
Tiada kata yang pantas kami ucapkan
Selain terimakasih atas semua jasa-jasa mu
Maafkan kami bila telah membuatmu kecewa
Jasa-jasa mu akan kami semat abadi sepanjang hidup kami
Terimakasih Guruku, engkau pahlawanku
Kini kau terbaring kakuSelamat jalan Pahlawan kuKol. Purn.Ir. SOEHARTANTO.M.Sc
Nama mu terukir indah dihati
Kami